Tampilkan postingan dengan label Raden Sirait. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Raden Sirait. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Maret 2011

Raden Sirait Usung Akulturasi Budaya Lokal & Luar

Rancangan Raden Sirait (Foto: Ist)
SELALU ada celah menarik untuk memadukan unsur lokal dan luar dalam sebuah busana. Inspirasi itu pula yang menggelitik Raden Sirait dalam rancangan busananya untuk pergelaran akbar yang menandai perjalanan 5 tahun dirinya menekuni dunia rancang kebaya.

Kecintaannya pada kebaya melahirkan keinginan untuk mengeksplorasi busana khas Indonesia tersebut. Dari sana, Raden Sirait kemudian menuangkan kecintaannya lewat sebuah konsep bertema “Kebaya For The World” yang telah ditekuninya selama 5 tahun. Raden memang bisa dibilang pendatang baru di dunia rancang kebaya, namun sebenarnya jebolan IPB ini telah menjajaki dunia fesyen selama 15 tahun lamanya. Guna menandai perjalanannya tersebut, khususnya di dunia rancang kebaya, Raden Sirait pun mengelar perhelatan akbar bertajuk “Kebaya For The World:  Journey of Love: Lima Tahun Cinta Raden Sirait untuk Kebaya" yang digelar pada Kamis, 30 Maret 2011.

Raden Sirait yang khas dengan desain kebaya yang asimetris tersebut bakal mengetengahkan tak kurang dari 155 busana yang terbagi dalam 15 sekuel dalam pergelaran yang bakal diselenggarakan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

“Tujuh sekuel di antaranya akan menampilkan koleksi yang mewakili busana lama, sementara 8 sekuel berikutnya menghadirkan koleksi terbaru,” ujar Raden Sirait yang dihubungi okezone melalui telepon selulernya, Rabu (30/3/2011).

Uniknya, pergelaran yang bakal berlangsung selama 2,5 jam tersebut akan menyuguhkan budaya teatrikal di mana sekitar 150 model lebih terlibat di dalamnya. Keunikan lainnya terletak pada desain yang disuguhkan Raden Sirait. Mantan karyawan marketing di sebuah perbankan nasional ini mengatakan, sajian akulturasi budaya Indonesia dan dunia akan menjadi nilai menarik yang bakal disuguhkan dalam pagelaran tersebut.

“Pergelaran ini akan sangat berbeda dengan yang sudah digelar sebelumnya. Dari perjalanan keliling dunia yang saya lakukan sejak lama, saya  mengumpulkan material unik dari Nepal, India, China, Korea, dan berbagai negara lainnya,” ungkap Raden yang tahun lalu fokus melakukan perjalanan selama 103 hari tersebut.

Meski memakai sebagian material dari berbagai belahan dunia, Raden tetap mengedepankan unsur Indonesia dalam rancangannya.

“Semuanya tetap kental dengan nafas Indonesia. Hanya sekitar 10-20 persen saja saya memasukkan unsur dunia secara global. Rancangan saya kali ini akan lebih bermain dengan detail di bagian pundak, serta banyak bermain dengan penggunaan aplikasi aksesori,” tutupnya.
(tty)

Besok, 150 Model Cantik Pamerkan 155 Kebaya

Raden Sirait saat show di JFFF (Foto: Gogirlmagz)
 
 SEBAGAI bentuk cintanya pada dunia desain yang membesarkannya, Raden Sirait menggelar hajatan fenomenal yang menampilkan tidak kurang dari 155 desain kebaya dan melibatkan 150 orang model.

Setelah dua kali menggelar pertunjukan tunggal bertajuk “Kebaya For The World” pada 2006 dan 2008, Raden Sirait siap unjuk gigi dengan pertunjukan yang lebih akbar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Kamis (31/3) besok. Pergelaran bertema “Kebaya For The World: Journey of Love: Lima Tahun Cinta Raden Sirait untuk Kebaya" ini menjadi wujud dedikasi desainer lulusan Insititut Pertanian Bogor (IPB)  tersebut terhadap dunia fesyen yang membesarkannya. Rencananya, Raden mempersembahkan 155 kebaya cantik dalam pergelaran akbar tersebut.

“Saya akan menampilkan tak kurang dari 155 kebaya meski sebenarnya saya menyiapkan kurang lebih 200 busana,” kata Raden yang dihubungi okezone melalui telepon selulernya, Rabu (30/3/2011).

Pemilihan angka 155 bagi desainer yang akrab disapa Denny ini pun bukan tanpa maksud. “Ada filosofi di balik angka 155 tersebut. 15 itu artinya perjalanan 15 tahun saya berkarier di fesyen dan 5 adalah 5 tahun berkebaya. Maka tercetuslah angka 155,” kata Raden.

Dalam pergelaran tersebut, Raden bakal menyuguhkan karya apik yang secara keseluruhan merupakan masterpiece-nya.

“Saya sudah mempersiapkan rancangan ini sejak 5 tahun lalu atau tepatnya ketika saya baru menapaki dunia rancang kebaya. Jadi, memang sudah terkonsep sejak awal. Di sela-sela rutinitas yang cukup padat, saya selalu menyisihkan waktu untuk mendesain busana untuk pergelaran 5 tahun saya berkarya dan akhirnya terkumpullah hingga sebanyak ini,” bebernya.

Meskipun sebelumnya pria kelahiran Porsea, 28 Maret 1970 sempat mengelar perhelatan tunggal, namun hajatan yang digelarnya kali ini bakal menampilkan sentuhan yang berbeda dari pergelaran sebelumnya.

“Pergelaran ini sifatnya jauh lebih komprehensif di mana mengetengahkan perjalanan saya dalam mendesain kebaya selama 5 tahun ini. Event ini pun merupakan rangkuman perjalanan 5 tahun saya yang pertama kali dan dibuat sangat besar. Dan yang spesial, selain melibatkan 150 orang model, saya pun menghadirkan 20 sahabat saya dari berbagai lini kehidupan saya, mulai dari teman kecil hingga teman arisan,” imbuhnya.

“Kebaya For The World” juga menjadi payung besar bagi pertunjukan tunggal Raden Sirait. Pada 2006 silam, Raden menghadirkan debut “Kebaya For The World” di Ubud, Bali. Kemudian pada 2008, dia kembali menghadirkan pertunjukan tunggal “Kebaya For The World” dengan tajuk “Bintang Bali Bangkit”.
(tty) Share

Raden Sirait Usung Akulturasi Budaya Lokal & Luar

Rancangan Raden Sirait (Foto: Ist) SELALU ada celah menarik untuk memadukan unsur lokal dan luar dalam sebuah busana. Inspirasi itu pula yang menggelitik Raden Sirait dalam rancangan busananya untuk pergelaran akbar yang menandai perjalanan 5 tahun dirinya menekuni dunia rancang kebaya.

Kecintaannya pada kebaya melahirkan keinginan untuk mengeksplorasi busana khas Indonesia tersebut. Dari sana, Raden Sirait kemudian menuangkan kecintaannya lewat sebuah konsep bertema “Kebaya For The World” yang telah ditekuninya selama 5 tahun. Raden memang bisa dibilang pendatang baru di dunia rancang kebaya, namun sebenarnya jebolan IPB ini telah menjajaki dunia fesyen selama 15 tahun lamanya. Guna menandai perjalanannya tersebut, khususnya di dunia rancang kebaya, Raden Sirait pun mengelar perhelatan akbar bertajuk “Kebaya For The World:  Journey of Love: Lima Tahun Cinta Raden Sirait untuk Kebaya" yang digelar pada Kamis, 30 Maret 2011.

Raden Sirait yang khas dengan desain kebaya yang asimetris tersebut bakal mengetengahkan tak kurang dari 155 busana yang terbagi dalam 15 sekuel dalam pergelaran yang bakal diselenggarakan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

“Tujuh sekuel di antaranya akan menampilkan koleksi yang mewakili busana lama, sementara 8 sekuel berikutnya menghadirkan koleksi terbaru,” ujar Raden Sirait yang dihubungi okezone melalui telepon selulernya, Rabu (30/3/2011).

Uniknya, pergelaran yang bakal berlangsung selama 2,5 jam tersebut akan menyuguhkan budaya teatrikal di mana sekitar 150 model lebih terlibat di dalamnya. Keunikan lainnya terletak pada desain yang disuguhkan Raden Sirait. Mantan karyawan marketing di sebuah perbankan nasional ini mengatakan, sajian akulturasi budaya Indonesia dan dunia akan menjadi nilai menarik yang bakal disuguhkan dalam pagelaran tersebut.

“Pergelaran ini akan sangat berbeda dengan yang sudah digelar sebelumnya. Dari perjalanan keliling dunia yang saya lakukan sejak lama, saya  mengumpulkan material unik dari Nepal, India, China, Korea, dan berbagai negara lainnya,” ungkap Raden yang tahun lalu fokus melakukan perjalanan selama 103 hari tersebut.

Meski memakai sebagian material dari berbagai belahan dunia, Raden tetap mengedepankan unsur Indonesia dalam rancangannya.

“Semuanya tetap kental dengan nafas Indonesia. Hanya sekitar 10-20 persen saja saya memasukkan unsur dunia secara global. Rancangan saya kali ini akan lebih bermain dengan detail di bagian pundak, serta banyak bermain dengan penggunaan aplikasi aksesori,” tutupnya.
(tty)

Jupe dan Puluhan Artis Bakal Berlenggok di Catwalk

Julia Perez (Foto: Photoselebriti) PERJALANAN 5 tahun karier rancang busana Raden Sirait ditandai dengan perhelatan akbar yang mengetengahkan konsep pertunjukan teatrikal. Selain menghadirkan model papan atas, Julia Perez dan beberapa artis Tanah Air pun bakal ikut meramaikan pergelaran tunggal tersebut.

Untuk ketiga kalinya, pergelaran “Kebaya For The World” akan diselenggarakan perancang busana kebanggaan Indonesia, Raden Sirait. Mengusung tema “Kebaya For The World: "Journey of Love: Lima Tahun Cinta Raden Sirait untuk Kebaya", Raden ingin menghadirkan rangkuman perjalanannya mengarungi dunia desain kebaya yang sudah dijajakinya selama 5 tahun ini.

Berbeda dari pergelaran pada umumnya, “Kebaya For The World” akan menghadirkan konsep yang baru pertama kali digelar di Indonesia, yakni pergelaran budaya teatrikal. Pertunjukan apik tersebut akan menghabiskan durasi sekitar 2,5 jam dan menyajikan 155 lebih busana kebaya rancangan Raden Sirait.

“Budaya teatrikal tersebut melibatkan Irlan Leksi selaku koreografer fesyen dan Joko Hesti sebagai koreografer tradisi,” ujar Yana Ghopar dari Dua Synergy Communications selaku promotor dan penyelenggara lewat pesan singkatnya kepada okezone, Rabu (30/3/2011).

Turut meramaikan hajatan akbar yang bakal dihelat di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Kamis (31/3) besok, diantaranya lima artis ikon “Kebaya For The World”, yakni Ardina Rasty, Asty Ananta, Imelda Fransisca, Maudy Koesnaedi, dan Nadine Chandrawinata. Hadir artis lain sebagai pendukung acara Agni Pratistha, Andien, Ayu Laksmi, Artika Sari Devi, Berlian Hutauruk, Connie Constantia, Donita, Dave Hendrik, Kamidia Radisti, Dea Mirela, Dicky Wahyudi, Dinda Kanya Dewi, Eza Gionino, Irfan Hakim, Irianti Erning Praja, Iwa K, Julia Perez, Lindy Cistia, Magdalena, Malaffayza, Maya Hasan, Melly Zamri, Novita Angie, Nuri Maulida, Ratih Soe, RNB 3 Batak, Rita Butar-butar, Selfi KDI, Smitha Anjani, Topodade, Wulan KDI, dan Zivanna Letisha Siregar.
(tty) Share

Raden Sirait Pamer Kebaya ala Papua dan India

Raden Sirait pamer kebaya ala Papua & India. (Foto: Dwi Indah Nurcahyani) RAGAM budaya Nusantara dan internasional menjadi inspirasi sekaligus sebuah kesatuan indah yang tersaji dalam balutan sebuah kebaya.

Keindahan kebaya memang selalu menarik untuk dieksplorasi lebih dalam. Ada banyak sisi yang bisa diolah untuk menampilkan keindahan busana adiluhung tersebut, tak terkecuali budaya internasional.

Berlatar belakang kondisi tersebut diusung Raden Sirait dalam pergelaran tunggal “Kebaya For The World: Journey of Love, Lima Tahun Cinta Raden Sirait untuk Kebaya".

Dalam perhelatan bertema teatrikal tersebut, pria asal Porsea itu menyajikan balutan indah kebaya yang mengakulturasi budaya lokal dan luar sebagai inspirasi. Sebanyak 155 lebih kebaya yang dipamerkan sengaja dibuat mewakili budaya masing-masing.

Sebuah sekuel dari 15 sekuel yang dibawakan pada hajatan akbar malam itu mengetengahkan busana khas Nusantara.

Kebaya ala Papua yang identik dengan rumbai-rumbai, kebaya Makassar dengan gaya sasaknya, kebaya ala Sunda yang khas dengan kerah dan belahan runcing di bagian bawah, serta kebaya Jawa, Kalimantan, Sumbawa,  Jakarta, Bali, dan Batak tersaji indah dalam pergelaran berdurasi lebih dari 2,5 jam. 

Selain mengedepankan unsur lokal, Raden juga mengadaptasi budaya luar dalam busana kebaya yang dipamerkannya. Penyuka traveling ini seperti menuangkan kecintaannya menyusuri sudut dunia dalam sajian busana.

"Sejak dulu saya memang suka traveling keliling dunia. Dari perjalanan itu, selain mendapatkan inspirasi, saya pun mendapat banyak kain dan aksesori yang unik dari berbagai negara. Semua material cantik tersebut saya kumpulkan dan kemudian saya gunakan dalam desain pada perhelatan ini," kata Raden yang ditemui dalam konferensi pers di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Kamis (31/3/2011).

Dari 155 lebih busana kebaya yang ditawarkan Raden, 70 di antaranya merupakan masterpiece yang belum sempat dipublikasikan sama sekali. Karya-karya Raden yang mengerahkan 150 model, dan 32 artis dalam pergelaran tunggalnya itu juga mengakulturasi budaya luar seperti  Mesir, Inggris, Afrika, Argentina, China, Korea, Vietnam, Thailand, dan India.

Raden memang membuat kebaya dengan sentuhan khas masing-masing negara tersebut tanpa meninggalkan kekhasannya. Misalnya, kebaya ala Afrika yang diberi aksen macan tutul pada selendangnya, kebaya berbentuk jubah ala Ratu Cleopatra untuk mengentalkan nuansa Mesir, atau kebaya pendek sebatas dada seperti yang kerap digunakan penari khas India.

Meski mengakulturasi ragam budaya dari berbagai pelosok daerah, napas kebaya khas Raden tetap terasa. Itu terlihat dari potongan kebaya yang indah memeluk tubuh, penggunaan torso sebagai dalaman, serta potongan asimetris yang menjadi ciri khasnya. Tak hanya itu, Raden pun tetap mempertahankan material lokal sebagai penunjang busananya seperti ulos, songket, tulle, dan brokat.

"Tidak ada keharusan dalam kreativitas yang saya lakukan. Tapi saya tetap berpegang pada pakem yang menjadi ciri khas kebaya itu sendiri yakni memeluk tubuh dan penonjolan torso," tutur Raden.

Ekspresi kebebasan dalam berkreativitas memang tak berbatas. Sejak kemunculannya lima tahun lalu, Raden sudah mengusung kebaya berpotongan asimetris serta menampilkan warna-warna berani dan provokatif seperti merah, hijau, biru, ungu, pink, gold dan warna terang lainnya yang mendominasi peragaan tunggal yang dihelatnya malam tersebut. 

"Kebaya buat saya adalah inovasi. Tujuan utama saya memang membawa kebaya ke pentas dunia. Jadi kalau saya terbatas ini dan itu saya justru akan kesulitan membawa ‘Kebaya For The World’ ke luar. Makanya saya tampilkan modernisasi kebaya yang bisa dipakai dengan legging, boot, stoking, dan hot pants. Dengan cara seperti ini bukan tidak mungkin kebaya bisa masuk dalam pertunjukan sekelas broadway," tutupnya.
(nsa)

Raden Sirait Berbagai Cinta Lewat Kebaya

Raden Sirait berbagi cinta lewat kebaya. (Foto: Dwi Indah Nurcahyani) CINTA yang begitu luas makna dan cakupannya bisa tertuang dalam berbagai rupa, tak terkecuali dalam sehelai busana. Untuk menggambarkan cinta, takkan ada lahan yang sanggup melukiskannya. Cinta yang begitu agung serta universal bisa tertuang dalam bentuk apapun. Dan, cinta universal ini pula yang diresapi Raden Sirait.

Desainer kelahiran Porsea ini memilih menuangkan sebongkah cintanya untuk mengulik keindahan busana Nusantara.

"Kebaya itu pengejawantahan dari cinta itu sendiri. Cinta tidak bisa dilihat namun bisa dirasakan secara emosional, karenanya perlu pengejawantahan dalam bentuk fisik. Dan kebaya adalah refleksi dari cinta yang saya miliki," kata Raden saat konferensi pers di foyer Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Kamis (31/3/2011).

Rasa cinta Raden terhadap kebaya memang begitu kuat. Itu terlihat dalam 155 busana kebaya lebih yang dipamerkan dalam pergelaran tunggal yang menandai perjalanan dirinya mengolah busana adiluhung tersebut selama lima tahun.

Mengusung tema “Kebaya For The World: Journey of Love, Lima Tahun Cinta Raden Sirait untuk Kebaya", sarjana lulusan Institut Pertanian Bogor ini secara liar menuangkan gagasannya mendesain kebaya. Puluhan kebaya yang sudah berevolusi hadir memenuhi panggung apik berlatar ala Timur Tengah dan Eropa yang kental dengan nuansa gold

Di atas panggung sengaja dibuat berstruktur tiga undakan yang mengguratkan filosofi penggambaran kehidupan manusia tersebut Raden secara gamblang menegaskan ekspresi cintanya yang meletup-letup terhadap kebaya.

Kesan evolusi zaman dan akulturasi budaya lokal dan luar pun sangat kental membaur di antara puluhan koleksi yang ditampilkannya. Pada sesi awal kebaya yang ditampilkannya dominan dengan bentuk kebaya ala Mesopotamia.

Kesan ratu dihadirkan lewat siluet kebaya yang memeluk tubuh dan dipadu dengan bawahan batik, songket, ulos, dan sebagainya. Citra seorang ratu ditegaskan melalui bentuk jubah mantel yang menutup bagian luar kebaya dengan aksen kerah tinggi dan berdiri. 

Di sesi selanjutnya, Raden menyajikan busana kebaya dengan kesan ekstravaganza. Kebaya yang biasanya formil disulap Raden dalam bentuk baju seksi yang dipadu dengan hot pants, stoking, dan bot.

Di pertengahan ada pula kebaya yang mengadopsi berbagai budaya Nusantara. Ada Bali, Papua, Jawa, dan beberapa propinsi lainnya yang menjadi inspirasi. Tak heran, penonton yang memadati Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki pada malam itu sempat dibuat kagum dengan tampilan kebaya yang berpadu rok rumbai-rumbai di mana identik dengan budaya Papua. Atau keindahan kebaya dengan paduan kain yang menjuntai mermotif macan tutul khas Afrika.

Raden sepertinya memang ingin menampilkan keindahan kebaya secara utuh. Keuniversalan kebaya ditampilkan Raden dengan adaptasi seni dan budaya dari seluruh penjuru.

"Misi terbesar saya memang ingin memperkenalkan dan mempopulerkan kebaya di kancah internasional. Jadi, kebaya tak hanya dipakai warga Indonesia tapi juga para pesohor dunia," tutupnya.
(nsa)

Raden Sirait Dedikasikan Kebaya Untuk Bumi

Koleksi Raden Sirait (Foto: Indah) KECINTAAN Raden Sirait terhadap kebaya tak hanya ditujukan untuk personal semata, tapi juga pada Tanah Air, dunia dan alam semesta.

Raden Sirait melanglang buana dengan kebayanya memang bukan sebuah impian semata. Putra Batak ini berhasil membuktikan bahwa kebaya memang bisa diterima di belahan manapun dan dalam kesempatan apapun. Karenanya, eksplorasi pada busana khas Indonesia tersebut tak berbatas. Berbagai konsep liar dan imajinatif mengalir deras dalam tiap busana yang dirancangnya.

Dalam pergelaran bertajuk “Kebaya For The World: Journey of Love, Lima Tahun Cinta Raden Sirait Untuk Kebaya" yang digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Kamis (31/3) malam, sederet kebaya apik nan inovatif pun dipamerkan. Raden memamerkan kreasi indah kebaya dengan berbagai kain Nusantara  dan kain dari berbagai belahan dunia yang sempat disambanginya.

Meski Raden bukanlah desainer yang bisa membuat sketsa, pola, dan menjahit, namun keterbatasan tersebut tak mengurangi keindahan kebaya yang diciptakan Raden. Selalu ada filosofi yang diusung bungsu dari 7 bersaudara ini ketika mengejawantahkan busana tradisional tersebut.

Cinta Raden pada kebaya memang tak sanggup terurai dengan kata. Baginya, cinta itu memiliki tiga ciri yakni, advance, indah, dan baik.

"Saya berusaha membuat kebaya yang saya temukan inspirasinya dan kemudian saya buat dengan bernafaskan cinta. Dan kebaya adalah wujud dari cinta itu sendiri," papar Raden.

Saking luasnya cinta tersebut, 155 lebih kebaya yang dipamerkan Raden dalam pagelaran tunggalnya pun mencakup seluruh elemen, yakni keluarga, sahabat, kolega, Tanah Air, dunia hingga bumi yang menjadi pijakan manusia menjalani kehidupan.

"Cinta itu bukan hanya untuk manusia, tapi juga makhluk hidup lainnya seperti hewan, tumbuhan, dan bumi," ungkap Raden.

Kecintaan terhadap bumi pun diterjemahkan Raden lewat galabusana yang dibawakan salah satu ikonnya Nadine Chandrawinata pada sekuel akhir. Raden yang baru saja ditunjuk menjadi duta WWF tersebut menampilkan unsur alam dalam sebuah busana. Kebaya berwarna toska berbentuk “wrapdress” bersusun di bagian bawah tersebut mengetengahkan lima unsur bumi yakni air, udara, tanah, kayu dan api. Kelima unsur tersebut tersebar dalam ornamen di tangan, hiasan kepala, torso kebaya hingga rok bawah yang bertumpuk.

"Filosofi dari tingkat tumpukan tersebut mengandung arti bahwa laut itu terdiri dari laut dalam, sedang dan butek. Rambut yang menjulang tinggi itu merupakan representasi udara yang membumbung tinggi, sementara torso mencerminkan api, tanah dan laut," katanya.

Lewat busana tersebut, perancang jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini ingin menyampaikan pesan bahwa “Life is Beautiful”. Namun kehidupan yang indah itu pun perlu didukung dengan kesadaran untuk menjaga keselarasan lima unsur bumi yang ada.

"Kalau kita mau hidup di dunia ini harus menyelaraskan lima unsur tersebut. Manfaatnya bukan hanya untuk kita semata, tapi juga demi kehidupan anak cucu di masa mendatang," pesan Raden.
(tty) Share